Sunday, 19 June 2016

HAL-HAL YANG MENARIK PADA BULAN SUCI RAMADHAN




Indahnya di bulan ramadhan. Bulan yang ditunggu oleh setiap umat muslim. Bulan yang penuh berkah, yaitu bulan di mana segala kebaikan akan dilipatgandakan, di mana dibuakakan pintu maaf selebar-lebarnya, dan di mana segala doa akan diijabah oleh Allah swt.
Sabda Rasullullah S.A.W , ‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah SWT, dia akan diberikan oleh Allah swt. 7 perkara:
  1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).
  2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.
  3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
  4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.
  5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
  6. Diberikan cahaya oleh Allah SWT pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.
  7. Allah SWT akan memberinya kemudian di syurga.
Ada beberapa hal lain yang begitu menarik ketika hadirnya bulan ramadhan bagi saya pribadi. Bulan ramadhan adalah bulan yang dirindukan, yaitu bulan yang membuat para perantau rindu kampung halaman dan merindukan teman-temannya untuk berkumpul, berkumpulnya kembali dengan teman-teman di malam hari untuk menunggu sahur, dan ngabuburit bareng temen di sore hari, dan ngga ketinggalan ikaln tv yang mengiklankan makanan menu buka puasa dan sahur, serta tayangan-tayangan tv yang bergenre religi dan tentunya membuat kesan tersendiri pada bulan ramadhan ini.
Mengapa bulan suci ini dikatakan bulan yang istimewa, karena pada bulan itulah momentum yang paling tepat untuk berkumpul dengan keluarga, teman, maupun tinggal di kampung halaman. Bagi mereka yang pergi keluar negeri masih bisa menikmati indahnya bulan suci ramadhan meskipun hanya bisa berbincang dengan keluarga dan teman melalui via telepon.
ketika memasuki malam hari, seluruh umat muslim berbondong-bondong pergi ke mesjid untuk menunaikan shalat tarawih. Hal ini juga yang membuat para umat muslim akan merasa kehilangan ketika perginya bulan yang indah ini.  
Ada banyak keistimewaan-keistimewaan lainnya dalam bulan suci penuh berkah ini.
Mungkin anda mempunyai hal yang lebih menarik di bulan ramadhan ini.

Wednesday, 8 June 2016

Pemerolehan Pendidikan Sebagai Moralitas Anak Bangsa



Pada postingan saya yang berjudul “pendidikan tak sejajar dengan moral” terlihat jelas bahwa pendidikan formal tidaklah cukup dalam membenahi moral anak bangsa yang begitu miris seperti saat ini. Karena hal penting yang mempengaruhi moral anak bangsa adalah lingkungan sekitarnya, maka suatu pendidikan yang diperoleh dari pendidikan formal tidak cukup untuk membangun moralitas anak bangsa melainkan dengan pengaruh pergaulan yang positif serta pengawasan dari orang sangat membantu dalam membenahi moral anak bangsa.

Pada kesempatan saya kali ini ingin mencoba mengartikan suatu makna dari sebuah pendidikan formal, informal dan nonformal untuk menjadikan moral anak bangsa manjadi harga mati.
Dewasa ini, bukan lagi seorang pelajar berlomba-lomba meraih suatu penghargaan sekolah atau menjadi siswa yang teladan, justru kebanyakan dari para pelajar kususnya di Jakarta mereka lebih suka mencari musuh antar sekolah yang mengakibatkan tawuran besar antar sekolah. apakah hal tersebut dapat dikatakan bahwa moral anak bangsa baik? jika penerus bangsa tidak mempunyai moral, apa jadinya bangsa ini ke depan?

Pada masalah tersebut berkenaan dengan pendidikan formal, informal maupun non formal jelas terlihat bahwa mereka tidak mendapatkan pendidikan yang positif. Jika dalam pendidikan formal atau dari sekolah, mungkin mereka sering diberikan pemahaman mengenai makna dari suatu pendidikan. akan tetapi apa yang telah mereka peroleh pada pendidikan informal maupun nonformal. Bisa saja dalam lingkungan keluarga mereka mempunyai problem entah kasih sayang yang kurang diberikan oleh orang tua, entah broken home yang pasti hal tersebut pun mempengaruhi pula atau berdampak pada lingkungan sekitar yaitu pendidikan nonformal yang diperolehnya akan baik dengan teman sebaya ataupun masyarakat yang kemungkinan besar limgkungan itu bukan lingkungan yang baik.

Berangkat dari persoalan tersebut, maka perlu ditingkatkannya moralitas anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa yang baik kususnya melalui pendidikan informal dan nonformal kalau pendidikan formal mungkin di situ ada seorang guru yang berperan sebagai seorang pendidik dan sudah menjadi tanggung jawab beliau untuk mengatasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan moral pelajar. Dalam lingkup sosial, seorang anak harus memiliki kepribadian yang sosialis, seperti suka membantu dan bergotong royong dalam hal bahu membahu agar mentalitas seorang anak dapat terbentuk dan itu pun bergantung pada didikan moral dari orang tuanya yaitu pendidikan informal yang sekiranya ikut mendorong dan memotivasi anak. Dari hal tersebut secara tidak langsung seorang anak memliki moral yang baik dengan memanfaatkan pendidikan moral yang diperoleh melalui pendidikan informal maupun dan nonformal.



Terima kasih sudah berkunjung. Jika ada salah kata, saya mohon maaf dan silakan kirimkan komentar kritikan serta saran yang bersifat membangun. :)

Mahasiswa, Karya, dan Blog



Menulis merupakan kegiatan membuat suatu huruf, angka, dan gambar yang dilahirkan melalui ide, gagasan, maupun perasaan sehingga menungkan sebuah kata-kata. Ketika sebelum menulis sudah pasti penulis mempunyai sesuatu yang ingin dicurahkan ke dalam sebuah catatan. Katakanlah seperti menulis puisi yang ditulis karena sedang kasmaran atau sebagainya yang ingin disampaikan namun hanya mampu diungkapkan melalui kata-kata. banyak sekali orang yang gemar terhadap menulis, karena sebuah tulisan yang dihasilkan itu adalah sebuah karya dan pantas untuk dipublikasikan karena yang namanya karya perlu untuk diapresiasi dan agar ada yang membacanya. Menulis tidak lepas dari seorang pembaca, jika tidak ada pembaca maka tulisan bukan sesuatu yang bermakna.
Ketika kita berbica soal mahasiswa kekinian tentu tidak lepas dari perkembangan zaman. Dewasa ini dunia modern  sangat berperan penting terhadap perkembangan sumber daya manusia terutama internet. Ya, internet cukup membantu dalam kehidupan sosial dan bahkan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi bagi seluruh manusia di penjuru dunia. Internet bukan suatu hal yang asing bagi mahasiswa, banyak mahasiswa yang memanfaatkan internet seperti membuat blog untuk memposting suatu karya atau artikel dan lain sebagainya.
saya salah seorang mahasiswa yang gemar menulis. tak jarang saya memposting karya saya tersebut ke dalam blog. Ada beberapa alasan mengapa saya memposting sebuah tulisan yang menurut saya itu adalah sebuah karya, mungkin salah satunya yaitu untuk menjadi mahasiswa yang kekinian dan aktif menulis sebuah karya dengan memanfaatkan teknologi.


So, manfaatkanlah teknologi sebagai proses pemerolehan pribadi yang kreatif. :)


jangan lupa tinggalkan komentar :)

Pendidikan Tak Sejajar Dengan Moral



Pendidikan adalah wujud nyata dari sebuah upaya untuk menjadikan pribadi bangsa yang lebih baik. Pendidikan pun didapatkan tidak hanya pada bangku sekolah, melainkan pada pendidikan nonformal maupun informal yakni pemerolehan suatu pendidikan yang didapatkan melalui lingkungan masyarakat, keluarga, teman sebaya dll. Misalnya didikan orang tua, pengaruh pergaulan yang positif, katakanlah pendidikan yang didapat dengan sendirinya tanpa ada ketentuan-ketentuan syarat dan lain sebagainya layaknya pendidikan formal.  Segala bentuk pemerolehan pendidikan itu bertujuan agar menciptakan sosok seorang yang memiliki pribadi yang lebih baik dan membangun moralitas yang baik pula. 
Moralitas bangsa saat ini sangat ironis sekali. Banyak kasus-kasus yang membuktikan bahwa moral anak bangsa sangat memprihatinkan. Seperti baru-baru ini yaitu kasus pemerkosaan yang pelakunya adalah anak-anak yang belum sah mendapatkan hukuman sebab usianya yang masih berstatus sebagai pelajar. Pada suatu kasus tersebut sangatlah jelas, bahwa pendidikan yang mereka dapatkan belum membangun secara utuh sebuah moralitas. Belum lagi banyak kericuhan-kericuhan, tawuran dan bahkan anak-anak genk motor yaitu semua pelakunya adalah seorang pelajar yang notabenenya orang yang mendapatkan pendidikan. Benar-benar suatu tugas besar bagi orang tua, lingkungan masyarakat dalam membenahi moralitas penerus bangsa yang begitu miris.

Ketika seorang anak telah merecap pendidikan formal, maka orang tua jangan seolah-olah berpikir bahwa moral anak tersebut sudah teratasi. Akan tetapi perlu adanya upaya dan pengawasan dari orang tua terhadap mendidik anak-anaknya  agar lebih mempunyai moral yang baik. Anak pelajar yang suka bermlasan-malasan, membolos sekolah, dan suka berkelahi itu adalah sebuah moralitas yang tidak mencerminkan mereka adalah seorang pelajar. Maka perlu adanya pembinaan dari pihak keluarga dalam mengatasi hal tersebut, sebab mengandalkan seorang guru saja tidak cukup untuk mendidik mereka karena guru hanya bisa memantaunya pada jam-jam sekolah, berbeda dengan orang tua yang tinggal bersama dan lebih mengenal anak-anaknya.


terima kasih sudah berkunjung. tinggalkan komentar sebagai kritik dan saran yang membangun. :) 

Tuesday, 17 May 2016

PARADIGMA PENDIDIKAN DI INDONESIA





Pendidikan memanglah suatu kebutuhan dalam kehidupan sosial, karena pendidikan dijadikan sebagai modal utama dalam menentukan masa depan. Hakekatnya suatu pendidikan adalah kewajiban bagi seluruh bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Namun pada kenyataanya banyak terjadi suatu pergeseran dalam hakekat dari pendidikan itu sendiri. Seperti anak-anak sekolah pada zaman ’80-an dengan anak sekolah pada masa sekarang yang sekiranya mempunyai anggapan mengenai arti dari pendidikan itu sendiri. Hal itulah yang membuat pergeseran dari paradigma suatu pendidikan di Indonesia.
Paradigma pendidikan pada masa ’80-an tidak sama dengan masa sekarang. Pada zaman itu mereka menganggap pendidikan adalah suatu kebutuhan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Karena pada masa itu pendidikan masih tergolong ke dalam orang-orang yang mampu saja untuk membayar biaya sekolah, kususnya Sekolah Menengah Atas. Akan tetapi hambatan tersebut bukan suatu alasan untuk menghalangi mereka yang benar-benar ingin bersekolah walau pun keadaan finansial yang terbatas. Semangat mereka pada masa itu terlihat dari tempat sekolah yang tempatnya jauh dari tempat tinggal mereka yang artinya pada saat itu memang belum banyak sekolah yang dibangun di beberapa tempat atau daerah pedesaan, mereka menggunakan sepeda untuk menempuh perjalanan menuju sekolah dengan uang saku yang sedikit atau bahkan terkadang tidak diberi uang saku, namun hal itu tidak terlalu dipermasalahkan, sebab mereka pergi ke sekolah untuk mencari ilmu bukan untuk mendapatkan uang jajan dari orang tua yang sudah susah payah mencarinya.
Paradigma tersebut telah bergeser entah mengikuti perkembangan zaman atau malah tidak memanfaatkan perkembangan zaman. Karena anak-anak masa sekarang berbeda dengan pada masa ’80-an yang artinya pada masa itu anak-anak bersekolah bertujuan untuk menuntut ilmu meski tidak ada kendaraan yang bisa lebih meringankan mereka untuk pergi ke sekolah. Anak-anak sekolah pada masa kini sepertinya tidak terlalu memprioritaskan suatu pendidikan, hal itu terlihat dari beberapa kasus yang sering terjadi pada anak Sekolah Menangah Atas yaitu  mereka sering membolos sekolah. hal itu mencerminkan mereka tidak menganggap bahwa sekolah itu  penting bagi dirinya. Padahalnya mereka sangat beruntung, karena banyak sekolah yang dibangun dekat dengan tempat tinggalnya dan bahkan banyak kendaraan-kendaraan umum atau sepeda motor sebagai sarana transportasi untuk pergi ke sekolah. akan tetapi pada kenyataannya mereka tidak memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut justru malah meggunakannya untuk pergi ke tempat hiburan seperti warnet, salah satu tempat yang sering dikunjungi siswa-siswa sekolah yang membolos, hal ini berpengaruh terhadap fasilitas yang dimilikinya dan kemungkinan uang saku yang diberi orang tuanya yang digunakan mereka untuk membayar sewa warnet. Sering kali kasus seorang siswa yang tidak mau berangkat ke sekolah hanya karena orang tuanya hanya sedikit memberikan uang saku, hanya sedikit bukan tidak diberi. Sungguh anggapan mereka terhadap pentingnya atau manfaat dari suatu pendidikan sangat nihil.
Hal-hal tersebutlah yang membuat pergeseran dari hakekat suatu pendidikan di Indonesisa. Anak sekolah zaman sekarang tidak berpikir tentang pentingnya suatu pendidikan sebagai modal untuk menyongsong masa depan, justru mereka mau bersekolah hanya karena diberi uang saku dan fasilitas sepeda motor sebagai sarana membolos sekolah.

11 Mei 2016
Sumber: mrjubran.blogspot.com